Langsung ke konten utama

Banyak Berkutat dengan Elektronik Bikin EQ Anak Buruk?



Kamis, 27 Januari 2011 | 18:21 WIB
KOMPAS.com - Setiap orangtua pasti memiliki harapan agar anaknya sukses dan berhasil menjalani hidup yang bahagia. Sani B. Hermawan, Psi, Direktur Lembaga Daya Insani, dalam presentasinya di hadapan media, Kamis, 27 Januari 2011, saat peluncuran buku Juven-Sahabat Sejati dari Danone Aqua mengungkapkan hal tersebut. Menurut Sani, setidaknya ada 3 tujuan dalam diri setiap orangtua, yakni:


1. Menumbuhkan anak yang cerdas, baik dalam hal Intelligent Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), dan Spiritual Quotient (SQ).
2. Anak yang sukses dalam hal pendidikan, pekerjaan, pernikahan, dan keluarga.
3. Bahagia di dunia dan di akhirat.

Namun, ia menyayangkan satu tren yang sedang merebak belakangan ini. Yakni, keranjingan mainan atau alat-alat elektronik pada anak.

"Saya pernah melihat sebuah keluarga di meja restoran. Satu keluarga berada di meja makan tersebut. Tetapi semuanya sibuk dengan alat-alat elektronik masing-masing. Si anak dengan mainan elektroniknya. Si ibu sibuk dengan ponselnya, si bapak pun begitu. Ini pun berlangsung cukup lama saat mereka di sana. Lalu, kapan komunikasinya?" tanya Sani.



Selain itu, jika anak terlalu sering berkutat dengan hal-hal elektronik, contohnya komputer, televisi, atau mainan elektronik genggam, maka kemampuannya untuk mengasah EQ-nya berkurang. "Televisi atau komputer kan memberi warna, tokoh yang bergerak, suara, dan lainnya. Hal-hal semacam ini kurang banyak menstimulasi otak anak untuk menciptakan imajinasi sendiri. Coba Anda panggil anak saat ia sedang bermain games. Sulit sekali ia memalingkan wajah, malah kadang mengabaikan orangtuanya. Alat-alat elektronik semacam ini membuatnya sibuk dengan stimulasi satu arah. Tidak terjadi komunikasi dua arah, dan ini berarti kehilangan kesempatan untuk mengasah komunikasinya," papar Sani.
Namun, Sani tidak serta merta menyarankan untuk para orangtua melarang anak-anaknya bermain dengan elektronik, "Boleh saja, karena mereka juga belajar beberapa hal dari permainan dan alat-alat elektronik. Namun, penting untuk membatasi penggunaannya. Tidak setiap saat setiap waktu. Mungkin, menonton televisi cukup 2-3 jam saja per hari. Atau secukupnya."

Padahal, menurut Sani, dari studi yang ia ketahui, IQ hanya berperan sebanyak 30 persen dalam kesuksesan seseorang. Sisanya, EQ yang menentukan. EQ menyangkut interaksi dengan orang, rasa keadilan, tolong menolong, keterbukaan, mudah bergaul, toleransi, empati, dan sebagainya.

Salah satu cara yang menurut Sani bisa dilakukan orangtua untuk menjalin kehangatan dengan anak adalah lewat mendongeng atau membaca bersama anak. "Dengan bacaan, anak membuat rekaan sendiri gambaran yang ada di tulisan itu. Lewat membaca, anak jadi tahu mengenai karakter, belajar berpikir, mengaktifkan otak, dan menjadi analitis. Apalagi jika membacanya bersama orangtua, hal ini akan membangun hubungan emosional hangat dengan orangtua, yang artinya membangun koneksi dengan anak," jelas Sani lagi.
Editor :
Nadia Felicia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terima Kasih Ku

Assalamualaikum Wr WB  Akhir Tahun Pelajaran merupakan peningkatan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kebahagiaan yang penuh harapan tercermin dari wajah anak didik dan juga orang tuanya. Kebahagiaan itu terkadang akan surut ketika menghadapi pemilihan sekolah ke jenjang pendidikan berikutnya. Saya mewakili takmir masjid Firdaus Madiun  Firdaus mengucapkan selamat untuk semua peserta didik yang hari ini telah menyelesaikan pendidikan di Paud Firdaus,  semoga mendapatkan  Sekolah yang dinginkan. Atas nama pribadi Edy Siswanto juga Takmir mohon maaf apabila selama membersamai para ustadzah, wali murid juga yang tercinta putra putri semata wayangnya bapak ibu wali murid banyak kekurangan baik disengaja ataupun tidak.  Ucapan terima kasih yang tak terhingga atas kepercayaannya selama ini, semoga anak-anak sukses dunia akhirat. Harapannya, walaupun berpisah, namun jalinan tali silaturahmi kita tetap terjalin indah. Sekali lagi selamat  mengukir prestasi di ma...

Noli Me Tangere

  Setiap diberikan masukan untuk perubahan salalu menolak. Dengan alasan biasanya seperti ini. Seperti: Lesson study Parenting sebelum penerimaan rapor Pemakaian atribut untuk upacara Belajar diluar kelas Anak dilatih jadi pemimpin Jangan selalu bertanya dengan jawaban jamaah Jangan terlalu pelit memberikan hadiah Paud kok les membaca dan nulis etung Lingkungan jadi sumber belajar Ucapan salam distiap pertemuan Ucapan salam sebelum masuk kelas Selalu Salim atau mengangguk setiap jumpa dengan orang atau teman. Dongeng sebelum tidur Pemanfaatan It Menambah anak didik.  Tahsin  Asmaul Husna Berakhirlah Kanjeng Nabi Muhammad SAW 

Pengumuman

 Assalamualaikum maaf ngganggu Mama wali murid, masyarakat sekitar dan para ustadhah kami penyelenggara dan atas nama Takmir mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas semua dedikasinya sehingga terselenggaranya pendidikan yang luar biasa di paud firdaus. Karena para ustadhah mengundurkan diri Paud Firdaus Madiun untuk sementara belum bisa menerima murid baru, untuk itu mohon bantuannya para ustadzah peduli membantu mama mama dan masyarakat sekitar mencarikan sekolah yang lebih berkualitas. Sekali lagi kami penyelenggara dan pengurus Takmir Masjid Firdaus Madiun minta maaf yang sebesar-besarnya semoga para ustadhah dapat mendarma baktikan ilmunya dimana dan kapanpun berada. Terima kasih sebelumnya semoga Allah SWT melindungi dan meridhoi kita semua. Takmir Masjid Firdaus Madiun